Di tengah derasnya arus transformasi ilmu pengetahuan, paradoks riset di Indonesia masih belum sepenuhnya teratasi. Di satu sisi, jumlah publikasi ilmiah terus meningkat. Di sisi lain, tidak sedikit penelitian yang berhenti sebagai tumpukan laporan, tanpa mampu menghadirkan solusi yang benar-benar menyentuh persoalan masyarakat. Kita sering berhasil menjelaskan masalah, tetapi belum cukup kuat menyelesaikannya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di perguruan tinggi umum, tetapi juga di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Padahal, sebagai institusi yang mengusung “paradigma integrasi ilmu”, PTKIN memiliki modal epistemologis yang sangat besar untuk menghadirkan model penelitian yang lebih utuh dan transformatif. Persoalannya, integrasi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam praktik metodologi penelitian.
Masih banyak penelitian yang terjebak pada dikotomi lama: kuantitatif atau kualitatif. Seolah-olah keduanya merupakan dua kubu yang saling meniadakan. Padahal, perkembangan metodologi penelitian dunia telah lama meninggalkan perdebatan tersebut. Pertanyaan penting hari ini bukan lagi metode mana yang paling benar, melainkan bagaimana berbagai metode dapat dipadukan untuk memahami realitas yang semakin kompleks.
Di sinilah mixed methods research menemukan relevansinya. Pendekatan ini bukan sekadar menggabungkan angka dengan narasi. Lebih dari itu, mixed methods merupakan cara berpikir yang mengakui bahwa realitas sosial memiliki banyak dimensi. Ada fakta yang dapat diukur secara statistik, tetapi ada pula makna yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman manusia. Angka mampu menunjukkan pola, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan alasan di balik pola tersebut. Sebaliknya, wawancara dan observasi mampu mengungkap makna, tetapi sering kali belum cukup menjelaskan sejauh mana suatu fenomena berlaku secara umum.
Ketika kedua pendekatan dipertemukan, penelitian memperoleh kekuatan yang lebih besar. Data kuantitatif memberikan kepastian empiris, sedangkan data kualitatif menghadirkan kedalaman interpretasi. Kesimpulan yang lahir tidak hanya valid secara statistik, tetapi juga kaya secara kontekstual.
Kebutuhan terhadap pendekatan semacam ini semakin mendesak ketika dunia menghadapi persoalan yang tidak lagi sederhana. Perubahan iklim, kecerdasan artifisial, intoleransi, kemiskinan, pendidikan, hingga krisis moral merupakan persoalan yang saling berkelindan. Tidak ada satu disiplin ilmu, bahkan satu metode penelitian, yang mampu menjelaskan seluruh kompleksitas tersebut secara sendirian.
Bagi PTKIN, kondisi ini justru merupakan peluang besar. Selama bertahun-tahun, PTKIN mengembangkan narasi “integrasi ilmu agama dan ilmu modern”. Berbagai metafora lahir untuk menggambarkan semangat tersebut, mulai dari jaring laba-laba, pohon ilmu, menara kembar, hingga banyak bermunculan konsep integrasi yang lain. Sayangnya, dalam banyak penelitian, integrasi sering berhenti pada tataran filosofis. Ilmu agama dan ilmu umum masih berjalan berdampingan, belum benar-benar saling memperkaya dalam desain penelitian.
Padahal, hakikat integrasi bukanlah menempelkan ayat Al-Qur’an pada bagian pendahuluan sebuah tesis atau disertasi. Integrasi adalah mempertemukan cara berpikir, teori, dan metodologi dari berbagai disiplin untuk melahirkan pemahaman yang lebih utuh.
Ambil contoh penelitian mengenai pengelolaan zakat. Persoalan ini tidak cukup dijelaskan melalui fikih semata. Ia memerlukan analisis ekonomi, perilaku sosial, tata kelola organisasi, teknologi digital, bahkan psikologi kepercayaan publik. Demikian pula penelitian tentang pendidikan Islam yang kini tidak mungkin dilepaskan dari neurosains, kecerdasan buatan, ilmu komunikasi, maupun manajemen mutu pendidikan.
Dalam konteks seperti itu, mixed methods bukan hanya pilihan metodologis, melainkan medium integrasi keilmuan itu sendiri. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menguji hubungan antarvariabel sekaligus memahami nilai-nilai yang bekerja di baliknya. Ia membuka ruang dialog antara pendekatan empiris dengan pendekatan normatif, antara objektivitas ilmiah dan dimensi etik, antara data dan hikmah.
Lebih jauh lagi, mixed methods memberikan peluang lebih besar untuk menghasilkan inovasi. Penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat berkembang menjadi model kebijakan, instrumen pengukuran, sistem digital, desain pembelajaran, maupun inovasi sosial yang dapat diterapkan langsung di masyarakat.
Inilah arah penelitian yang kini didorong oleh berbagai lembaga pendanaan dunia, penelitian yang menghasilkan dampak (research impact), bukan sekadar menghasilkan artikel.
Tantangan berikutnya adalah membangun budaya riset yang mendukung paradigma tersebut. Kurikulum metodologi penelitian di PTKIN perlu bergerak melampaui pembelajaran statistik dan analisis kualitatif secara terpisah. Mahasiswa pascasarjana perlu dibekali kemampuan mengintegrasikan keduanya dalam satu desain penelitian yang utuh. Dosen pun perlu didorong membangun kolaborasi lintas disiplin, bukan hanya lintas fakultas.
Langkah ini penting karena masa depan ilmu pengetahuan tidak lagi ditentukan oleh spesialisasi yang semakin sempit, melainkan oleh kemampuan membangun sintesis antardisiplin. Pada saat yang sama, PTKIN memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak perguruan tinggi lain, yakni kemampuan memadukan dimensi empiris, etik, dan spiritual dalam pengembangan ilmu. Potensi inilah yang semestinya menjadi identitas akademik PTKIN di tingkat global.
Kita memerlukan penelitian yang tidak hanya menjelaskan “apa yang terjadi”, tetapi juga memahami “mengapa hal itu terjadi”, sekaligus menawarkan “bagaimana memperbaikinya”. Di sinilah mixed methods menemukan signifikansinya.
Jika PTKIN ingin tampil sebagai pusat pengembangan ilmu yang relevan dengan tantangan abad ke-21, maka integrasi keilmuan harus bergerak dari slogan menuju metodologi. Dan salah satu jalan paling menjanjikan untuk mewujudkannya adalah menjadikan mixed methods research sebagai arus utama budaya riset.
Riset yang unggul tidak lahir karena banyaknya data atau rumitnya analisis. Ia lahir ketika berbagai cara pandang dipertemukan untuk memahami kenyataan secara utuh dan menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.
Waallahu A’lam Bishowab