R&D, MIXED METHODS, DAN PARADIGMA PRAGMATIS: JALAN INTEGRASI KEILMUAN PTKIN

Perdebatan metodologis dalam dunia akademik sering terjebak pada pertanyaan klasik: mana yang lebih unggul, kuantitatif atau kualitatif? Pertanyaan ini sesungguhnya semakin kehilangan relevansinya ketika dunia menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Masyarakat tidak membutuhkan penelitian yang hanya menghasilkan perdebatan paradigma, tetapi penelitian yang mampu menyelesaikan masalah nyata melalui inovasi yang dapat diuji, diterapkan, dan dikembangkan. Dalam konteks inilah Research and Development (R&D) dan Mixed Methods dengan paradigma pragmatisme memperoleh posisi yang sangat strategis.

Paradigma pragmatis sering kali disalahpahami sebagai paradigma yang “tidak memiliki pijakan filsafat yang kuat”. Tuduhan tersebut justru menunjukkan ketidakpahaman terhadap perkembangan metodologi penelitian modern. Pragmatisme bukanlah jalan pintas yang mengabaikan filsafat ilmu, melainkan sebuah paradigma yang menempatkan kebenaran ilmiah pada kemampuannya menyelesaikan persoalan nyata. Sebagaimana dikemukakan Charles Sanders Peirce, William James, dan John Dewey, nilai sebuah pengetahuan tidak berhenti pada koherensi teoritis, tetapi juga pada konsekuensi praktis yang dapat dirasakan masyarakat.

Di sinilah Mixed Methods menemukan legitimasi filosofisnya. Ketika penelitian kuantitatif mampu menjawab pertanyaan “seberapa besar”, sedangkan penelitian kualitatif menjelaskan “mengapa dan bagaimana”, maka Mixed Methods menghadirkan keduanya secara terpadu sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Integrasi ini bukan kompromi metodologis, melainkan sintesis ilmiah yang menghasilkan bukti (evidence) yang lebih kuat.

Lebih jauh lagi, paradigma pragmatis mencapai bentuk paling idealnya dalam penelitian Research and Development (R&D). R&D tidak berhenti pada penjelasan fenomena, melainkan melahirkan produk ilmiah baru yang melewati proses desain, validasi ahli, uji coba terbatas, revisi, implementasi, hingga pengujian efektivitas. Produk tersebut dapat berupa model pembelajaran, kurikulum, sistem manajemen mutu, aplikasi digital, perangkat asesmen, modul, media pembelajaran, kebijakan pendidikan, hingga model pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, ukuran keberhasilan penelitian bukan lagi sekadar publikasi ilmiah, tetapi juga produk inovasi yang memberikan dampak nyata (scientific impact dan social impact).

Bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), orientasi ini memiliki makna yang jauh lebih strategis. Hampir seluruh PTKIN mengusung slogan integrasi keilmuan, yaitu menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Namun, integrasi keilmuan tidak akan pernah terwujud hanya melalui jargon atau deklarasi filosofis. Integrasi harus diwujudkan melalui metodologi penelitian yang memang memungkinkan berbagai disiplin ilmu bertemu dalam satu kerangka ilmiah.

Di sinilah R&D dan Mixed Methods menjadi instrumen yang paling sesuai dengan semangat integrasi keilmuan. Penelitian tidak lagi hanya menguji teori pendidikan Islam secara normatif ataupun mengukur variabel pendidikan secara statistik semata, melainkan mengintegrasikan kajian normatif, empiris, sosial, psikologis, teknologi, ekonomi, bahkan kecerdasan buatan untuk menghasilkan solusi yang komprehensif. Ayat-ayat qauliyah dan fenomena kauniyah tidak dipertentangkan, tetapi dipadukan menjadi sumber inspirasi inovasi ilmiah.

Sebagai contoh, ketika PTKIN mengembangkan model pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam, penelitian R&D dengan pendekatan Mixed Methods mampu mengintegrasikan tafsir Al-Qur’an, teori pendidikan modern, kebutuhan pengguna, analisis statistik efektivitas, observasi kelas, hingga evaluasi implementasi di lapangan. Hasil akhirnya bukan hanya artikel ilmiah, tetapi produk pendidikan yang tervalidasi dan siap diimplementasikan secara nasional maupun internasional.

Paradigma seperti inilah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan PTKIN saat ini. Persaingan perguruan tinggi dunia tidak lagi diukur hanya dari jumlah publikasi, tetapi juga dari jumlah inovasi, paten, model, prototipe, teknologi, kebijakan, dan dampak sosial yang dihasilkan. Universitas kelas dunia tidak lahir dari penelitian yang berhenti pada kesimpulan, melainkan dari penelitian yang melahirkan produk pengetahuan baru (new scientific products) yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, sudah saatnya PTKIN menjadikan penelitian R&D berbasis Mixed Methods sebagai salah satu arus utama pengembangan riset. Pendekatan ini selaras dengan kebijakan outcome-based research, penguatan hilirisasi hasil penelitian, peningkatan Technology Readiness Level (TRL), serta tuntutan akreditasi dan pemeringkatan internasional yang semakin menekankan dampak penelitian terhadap masyarakat.

Berikut saya tunjukkan beberapa contoh dari penelitian R & D dan Mix Methods yang berkaliber Nasional dan Intenasional pada table 1 dan 2 di bawah ini:

Tabel 1. Penelitian R&D

Bidang Contoh Judul Penelitian Produk yang Dihasilkan Pengujian Luaran Nasional Luaran Internasional
Pendidikan Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Deep Learning dan Nilai Islam Model pembelajaran, Buku Panduan Guru, Modul Digital Validasi ahli, uji terbatas, uji lapangan, eksperimen efektivitas HKI, Buku ISBN, Jurnal SINTA, Implementasi Kemendikbud/Kemenag Artikel Scopus Q1/Q2, Hak Cipta Internasional
Teknologi Pendidikan Pengembangan AI Tutor untuk PTKIN Aplikasi Artificial Intelligence Alpha Test, Beta Test, User Acceptance Test (UAT) HKI Software, Paten Sederhana Software Citation, Scopus, Patent Cooperation Treaty (PCT)
Pendidikan Islam Pengembangan Model Kurikulum Integrasi Keilmuan PTKIN Model Kurikulum Integratif Delphi Expert Validation, FGD Nasional, Implementasi Multi Kampus Pedoman Nasional PTKIN International Best Practice Model
Manajemen Pendidikan Pengembangan University Quality Management System Sistem Penjaminan Mutu Digital ISO Audit Simulation, Expert Review Implementasi di PTKIN Model Quality Assurance bertaraf internasional
Psikologi Pendidikan Pengembangan Instrumen Student Wellbeing Islami Skala Psikometri CFA, SEM, Rasch Model Instrumen Nasional Cross-cultural Validation

 

Tabel 2. Penelitian Mixed Methods

Bidang Permasalahan Desain Mixed Methods Hasil yang Diperoleh Nilai Tambah
Pendidikan Islam Mengapa lulusan PTKIN belum kompetitif? Sequential Explanatory Statistik menunjukkan faktor dominan, wawancara menjelaskan penyebab Rekomendasi kebijakan nasional
Manajemen Pendidikan Efektivitas Kepemimpinan Rektor Convergent Design Data survei dan wawancara saling menguatkan Model kepemimpinan PTKIN
AI dalam Pendidikan Pengaruh AI terhadap Pembelajaran Embedded Design Pengaruh AI terukur sekaligus pengalaman pengguna dipahami Framework AI Education
Akreditasi Pengaruh ISO 21001 terhadap Mutu PT Explanatory Sequential Hubungan statistik diperkuat studi kasus Model implementasi ISO
Student Wellbeing Pengaruh School Policy terhadap Brand Image Exploratory Sequential Temuan kualitatif menghasilkan variabel baru yang diuji kuantitatif Teori baru (Theory Building)

 

Dari table di atas, maka terlihat jelas bahwa dua metode riset baik R&D dan Mix Method dengan paradigma pragmatis mampu berkontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang aplikatif dalam Pendidikan.

Mempertentangkan pragmatisme dengan integrasi keilmuan merupakan kekeliruan konseptual. Justru melalui paradigma pragmatis, integrasi keilmuan memperoleh ruang implementasi yang nyata. Ilmu agama memberi arah nilai, ilmu sosial menjelaskan realitas, ilmu alam dan teknologi menghadirkan inovasi, sementara R&D dan Mixed Methods menjembatani semuanya menjadi produk ilmiah yang teruji.

Pada akhirnya, masa depan PTKIN tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak perdebatan metodologi yang dibangun, melainkan oleh seberapa banyak inovasi yang mampu dihasilkan untuk menjawab persoalan umat dan kemanusiaan. Research and Development dan Mixed Methods berbasis paradigma pragmatis menawarkan jalan tersebut: dari integrasi paradigma menuju integrasi ilmu, dari integrasi ilmu menuju inovasi, dan dari inovasi menuju kemaslahatan. Di situlah slogan integrasi keilmuan menemukan maknanya yang paling autentik, bukan sekadar menyatukan disiplin ilmu dalam konsep, tetapi melahirkan produk ilmiah yang berdampak bagi peradaban.

Wallahu A’lam Bishowab