Mix Method Bukan Sekadar Mencampur Data: Pahami Desain Agar Tidak Salah Arah

Penelitian Mixed Methods menjadi salah satu pendekatan yang paling diminati oleh mahasiswa maupun peneliti di berbagai perguruan tinggi. Hampir setiap proposal penelitian kini mencantumkan istilah mixed methods. Ironisnya, semakin populer sebuah metode, semakin sering pula ia disalahpahami.

Fenomena yang banyak dijumpai adalah peneliti melakukan wawancara, menyebarkan angket, lalu menyimpulkan bahwa penelitiannya telah menggunakan mixed methods. Padahal, menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif belum tentu berarti menggunakan Mixed Methods Research (MMR). Jika kedua data tersebut hanya dikumpulkan tanpa integrasi desain yang jelas, penelitian itu hanyalah dua penelitian berbeda yang dikerjakan secara bersamaan.

Kesalahan inilah yang perlu diluruskan. Mixed methods bukanlah “campur aduk metode”, melainkan integrasi dua paradigma penelitian yang dirancang secara sistematis untuk menjawab pertanyaan penelitian yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu pendekatan.

John W. Creswell dan Vicki L. Plano Clark menegaskan bahwa inti mixed methods bukan terletak pada penggunaan dua jenis data, melainkan bagaimana kedua data tersebut diintegrasikan (integration), kapan dikumpulkan (timing), mana yang diprioritaskan (priority), dan pada tahap mana keduanya dipertemukan (mixing point).

Dengan kata lain, pertanyaan pertama seorang peneliti seharusnya bukan, “Saya memakai wawancara atau angket?”, melainkan, “Mengapa kedua metode ini perlu dipadukan untuk menjawab masalah penelitian?”

Jika alasan ilmiahnya tidak ada, maka penggunaan mixed methods justru memperumit penelitian tanpa meningkatkan kualitas hasilnya.

 

Tiga Kelompok Desain Mixed Methods

Secara umum, desain mixed methods dapat dikelompokkan menjadi tiga keluarga besar: Concurrent, Sequential, dan Transformative. Ketiga desain ini memiliki filosofi, prosedur, dan tujuan yang sangat berbeda.

         Hal ini sebagaimana saya kutip pendapat John Cresswell dari bukunya yang berjudul Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches/John W. Creswell.—3rd ed,  terbitan 2009. Pada table 1.2 berikut.

  1. Concurrent Mixed Methods: Berjalan Bersamaan

Pada desain Concurrent, data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan pada waktu yang relatif bersamaan. Kedua jenis data kemudian dianalisis secara terpisah sebelum akhirnya diintegrasikan untuk memperoleh kesimpulan yang lebih utuh.

Pada desain concurrent masih terbagi menjadi 2 desain lagi yakni: (1) Triangulation Mix method, dan (2) Embedded Mix Method. Untuk triangulation mix method sejak awal antara data Kuantitatif dan Kualitatif masing-masing bersifat dominan, hasilnya ditandingkan, disandingkan dan dikonfrontasikan, jika ada yang saling menegasikan maka riset harus diulang kembali (dilakukan pengecekan ulang). Sedangkan embedded mix method, data kuantitatif/kualitatif bersifat sekunder (mendukung) data kualitatif/kuantitatif, atau sebaliknya. Hal ini digambarkan seperti perangko yang ditempelkan pada amplop.

Desain ini cocok ketika peneliti ingin memperoleh gambaran yang komprehensif dalam waktu yang relatif singkat. Misalnya, efektivitas sebuah program pendidikan dapat diukur melalui angket kepada ratusan responden sekaligus diperdalam melalui wawancara terhadap beberapa informan kunci.

Namun, banyak peneliti keliru menganggap bahwa mengumpulkan angket dan wawancara pada hari yang sama otomatis menjadi desain concurrent. Padahal, yang menentukan bukan waktu pengumpulan datanya, melainkan apakah kedua data tersebut benar-benar diintegrasikan untuk saling mengonfirmasi, melengkapi, atau menjelaskan satu sama lain.

Tanpa integrasi tersebut, penelitian hanya menjadi dua laporan yang berdiri sendiri.

  1. Sequential Mixed Methods: Bertahap dan Saling Membangun

Jenis kedua adalah Sequential Mixed Methods, yaitu penelitian yang dilakukan secara bertahap. Hasil tahap pertama menjadi dasar bagi tahap berikutnya.

Inilah desain yang paling banyak digunakan dalam penelitian pendidikan karena mampu menghasilkan penjelasan yang lebih mendalam.

Sequential sendiri memiliki dua bentuk utama.

  • Explanatory Sequential

Penelitian dimulai dengan pendekatan kuantitatif.

Misalnya, survei menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh signifikan terhadap budaya mutu. Namun angka statistik belum mampu menjelaskan mengapa pengaruh tersebut terjadi. Karena itu, tahap berikutnya dilakukan wawancara mendalam untuk menjelaskan hasil statistik tersebut. Tahapannya yakni:

Kuantitatif → Kualitatif → Integrasi

Desain ini sangat tepat ketika statistik telah menjawab “apa yang terjadi”, tetapi belum menjelaskan “mengapa hal itu terjadi”.

 

  • Exploratory Sequential

Penelitian dimulai dari pendekatan kualitatif.

Peneliti terlebih dahulu melakukan observasi atau wawancara untuk menemukan konsep, model, indikator, atau teori baru. Setelah itu, hasil temuan tersebut diuji secara kuantitatif pada populasi yang lebih luas. Tahapannya yakni:

Kualitatif → Kuantitatif → Integrasi

Desain ini banyak digunakan dalam penelitian pengembangan instrumen, model pendidikan, maupun penelitian R&D.

Kesalahan yang sering terjadi adalah peneliti melakukan wawancara setelah survei selesai tanpa alasan metodologis yang jelas. Akibatnya, tahapan penelitian kehilangan fungsi ilmiahnya.

 

  1. Transformative Mixed Methods: Penelitian yang Berpihak

Jenis ketiga adalah Transformative Mixed Methods. Desain ini berbeda dari dua desain sebelumnya karena sejak awal penelitian dibangun berdasarkan suatu perspektif atau paradigma tertentu, misalnya keadilan sosial, kesetaraan gender, inklusi pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hak-hak penyandang disabilitas, atau nilai-nilai keagamaan.

Dalam desain ini, kuantitatif maupun kualitatif hanyalah alat. Yang menjadi pusat penelitian adalah upaya menghasilkan perubahan sosial. Misalnya penelitian mengenai akses pendidikan bagi mahasiswa penyandang disabilitas di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Data statistik menunjukkan tingkat kepuasan layanan, sedangkan wawancara mengungkap berbagai bentuk diskriminasi yang tidak terlihat dalam angka. Integrasi keduanya kemudian digunakan untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih inklusif.

Artinya, mixed methods transformatif tidak hanya bertujuan menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mendorong transformasi sosial.

Kesalahan terbesar dalam penelitian mixed methods adalah memilih desain karena dianggap lebih keren daripada penelitian kuantitatif atau kualitatif. Padahal setiap desain memiliki fungsi yang berbeda.

  • Concurrent dipilih ketika peneliti ingin memperoleh konfirmasi atau pelengkap secara bersamaan.
  • Sequential digunakan ketika hasil tahap pertama harus menjadi dasar tahap berikutnya.
  • Transformative digunakan ketika penelitian diarahkan untuk mendukung perubahan sosial berdasarkan paradigma tertentu.

Apabila sejak awal tidak ada kebutuhan integrasi, maka penelitian kuantitatif atau kualitatif murni justru lebih tepat dan lebih sederhana.

 

Mixed Methods adalah Integrasi, Bukan Penjumlahan

Pada akhirnya, kualitas mixed methods tidak diukur dari banyaknya instrumen yang digunakan, tetapi dari kualitas integrasi antara kedua pendekatan tersebut. Penelitian yang baik bukan penelitian yang memiliki angket, wawancara, observasi, dokumentasi, dan FGD sekaligus. Penelitian yang baik adalah penelitian yang mampu menjelaskan mengapa semua metode itu diperlukan dan bagaimana masing-masing saling melengkapi untuk menjawab satu pertanyaan penelitian yang sama.

Karena itu, sudah saatnya perguruan tinggi membangun literasi metodologi yang lebih kuat. Mahasiswa dan dosen perlu memahami bahwa mixed methods adalah sebuah desain penelitian, bukan sekadar daftar teknik pengumpulan data. Menyebarkan angket lalu melakukan wawancara tidak otomatis menjadikan penelitian sebagai mixed methods. Yang menjadikannya mixed methods adalah adanya desain integrasi yang logis, sistematis, dan berlandaskan paradigma pragmatis atau paradigma lain yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Dengan pemahaman yang benar, mixed methods akan menjadi salah satu pendekatan paling kuat dalam menghasilkan pengetahuan baru. Sebaliknya, jika dipahami secara keliru, ia hanya akan menjadi label metodologis yang terdengar canggih, tetapi miskin substansi ilmiah.

Wallahu A’lam Bishowab