Ada satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menentukan kualitas Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di perguruan tinggi: seberapa objektif seorang auditor ketika yang diaudit adalah orang yang lebih senior, lebih tinggi jabatannya, lebih berpengaruh, atau bahkan teman dekatnya sendiri?
Pertanyaan ini penting karena menjadi auditor mutu internal bukan sekadar persoalan memahami instrumen, standar, SOP, bukti audit, atau teknik menyusun temuan. Di atas semua itu, auditor membutuhkan mental yang tangguh dan keberanian moral. Auditor dituntut mengatakan apa adanya, sementara budaya organisasi sering mengajarkan sebaliknya: menjaga perasaan, menghormati senioritas, menghindari konflik, dan tidak mempermalukan kolega. Di sinilah muncul apa yang dapat kita sebut sebagai “sungkanisme”—sebuah kecenderungan untuk terlalu sungkan menyampaikan fakta karena pertimbangan hubungan personal, jabatan, senioritas, kedekatan, atau rasa tidak enak. Masalahnya, dalam dunia mutu, rasa sungkan yang berlebihan dapat menjadi musuh objektivitas.
Ketika “Sungkan” Mengalahkan Standar
Budaya sopan santun tentu bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Menghormati orang lain merupakan bagian penting dari etika akademik. Tetapi ada garis batas yang harus dijaga. Sopan santun tidak boleh berubah menjadi kompromi terhadap kebenaran. Ketika auditor menemukan bukti yang tidak sesuai standar, tetapi memilih diam karena yang diaudit adalah pimpinan, maka persoalannya bukan lagi kesopanan. Itu adalah persoalan independensi. Ketika auditor melihat proses yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, tetapi mengatakan, “Sudahlah, nanti malah tidak enak,” maka yang sedang dikorbankan bukan perasaan auditee, melainkan kualitas institusi.Ketika temuan dilunakkan hanya karena auditee adalah senior, maka standar telah kehilangan maknanya. Dan ketika auditor memilih tidak bertanya karena takut dianggap tidak menghormati jabatan, maka audit telah kehilangan fungsi kritisnya.
Standar seharusnya tidak mengenal senioritas. Bukti tidak mengenal jabatan. Yang dinilai adalah proses dan fakta, bukan siapa orangnya.
Auditor Bukan Teman yang Harus Selalu Menyenangkan
Di lingkungan perguruan tinggi, auditor internal hampir pasti mengenal orang yang diaudit. Mereka bisa menjadi kolega, teman satu organisasi, sesama dosen, bahkan orang yang sehari-hari bekerja dalam satu ruangan. Kondisi ini membuat audit internal memiliki tantangan yang berbeda dengan audit eksternal. Auditor internal berhadapan dengan relasi sosial yang nyata.
Karena itu, tidak mengherankan jika muncul dilema:“Kalau saya menyampaikan temuan ini, apakah hubungan kami akan terganggu?” Pertanyaan tersebut manusiawi. Tetapi auditor harus mampu membedakan antara menjaga hubungan baik dan mengorbankan objektivitas. Hubungan profesional justru seharusnya dibangun di atas kejujuran.
Auditor yang menyampaikan temuan berbasis bukti bukan sedang memusuhi auditee. Ia sedang menjalankan mandat institusi. Sebaliknya, auditor yang sengaja menutupi kelemahan demi menjaga pertemanan mungkin terlihat baik dalam jangka pendek, tetapi sesungguhnya sedang menanam masalah bagi institusi dalam jangka panjang. Teman yang baik bukan selalu orang yang mengatakan “semuanya sudah baik”. Kadang justru orang yang berani mengatakan “di sini ada yang harus diperbaiki”.
Bahaya “Ewuh Pakewuh” dalam Audit
Dalam budaya organisasi tertentu, ewuh pakewuh memiliki fungsi positif. Ia menjaga harmoni, menghindarkan seseorang dari sikap kasar, dan menciptakan penghormatan antarmanusia. Namun ketika dibawa terlalu jauh ke dalam proses audit, ewuh pakewuh dapat menjadi problem. Auditor akhirnya lebih banyak membaca situasi sosial daripada membaca bukti. Lebih mempertimbangkan siapa yang diperiksa daripada apa yang diperiksa. Lebih memikirkan konsekuensi personal daripada dampak kelemahan terhadap institusi. Pada titik tertentu, ewuh pakewuh berubah menjadi sungkanisme. Sungkanisme bukan sekadar rasa sungkan. Ia menjadi pola perilaku ketika rasa tidak enak secara sistematis membuat seseorang gagal menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Jika hal tersebut terjadi secara kolektif, persoalannya menjadi lebih serius. Kita bukan lagi berhadapan dengan kelemahan individu auditor, tetapi dengan budaya organisasi yang permisif terhadap ketidakobjektifan.
Auditor Harus Berani Menguji yang “Sudah Dianggap Benar” Auditor yang baik tidak cukup hanya memeriksa apakah dokumen tersedia. Ia harus berani bertanya:
- Apakah dokumen tersebut benar-benar dilaksanakan?
- Apakah bukti yang diberikan valid?
- Apakah prosedur menghasilkan tujuan yang diharapkan?
- Apakah indikator yang digunakan benar-benar mengukur kinerja?
- Apakah tindak lanjut audit sebelumnya benar-benar efektif?
- Apakah masalah yang sama muncul kembali?
Aspek yang paling penting: Apakah sistem ini benar-benar menghasilkan mutu, atau hanya menghasilkan bukti bahwa kita seolah-olah bermutu? Pertanyaan terakhir mungkin terasa tajam. Namun justru itulah fungsi auditor. Auditor tidak seharusnya menjadi penjaga kenyamanan organisasi. Auditor harus menjadi penguji kesehatan organisasi. Dokter yang baik tidak mengatakan pasien sehat hanya karena pasien ingin mendengar kabar baik. Demikian pula auditor tidak boleh menyatakan sistem baik hanya karena institusi ingin memperoleh laporan yang menyenangkan.
Mental Auditor Diuji Ketika Bertemu Kekuasaan
Ujian terbesar auditor bukan ketika mengaudit unit yang lemah. Ujian sesungguhnya adalah ketika auditor harus memeriksa unit yang dipimpin oleh orang yang memiliki pengaruh.
Di sinilah integritas diuji.
- Apakah auditor tetap bertanya ketika yang diaudit adalah pejabat?
- Apakah auditor tetap meminta bukti ketika berhadapan dengan profesor senior?
- Apakah auditor tetap mencatat ketidaksesuaian ketika auditee memiliki posisi struktural lebih tinggi?
- Apakah auditor tetap objektif ketika keputusan audit berpotensi membuat dirinya tidak populer?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan kualitas mental auditor. Auditor yang objektif bukan auditor yang berani kepada yang lemah, tetapi auditor yang tetap objektif ketika berhadapan dengan yang kuat. Ini bukan persoalan keberanian yang sembrono. Auditor tetap harus santun, berbasis bukti, mengikuti prosedur, dan menghormati tata kelola. Tetapi rasa hormat tidak boleh membuat standar menjadi lentur.
Ada ekstrem lain yang juga harus dihindari: auditor yang merasa semakin banyak menemukan kesalahan berarti semakin hebat. Ini keliru. Audit bukan kompetisi mencari jumlah temuan. Auditor tidak datang untuk mempermalukan auditee. Auditor datang untuk memastikan sistem bekerja dan mendorong perbaikan. Karena itu, auditor harus mampu membedakan antara kritik terhadap proses dan serangan terhadap pribadi. Kalimat: “Proses ini belum memiliki bukti yang cukup sesuai kriteria.” jauh lebih profesional daripada: “Bapak/Ibu tidak pernah bekerja dengan benar.” Kalimat pertama mengkritik proses. Kalimat kedua menyerang pribadi. Di sinilah mental auditor harus matang. Objektif bukan berarti kasar. Tegas bukan berarti arogan. Kritis bukan berarti menghukum.
Temuan Bukan Aib
Persoalan lain yang sering membuat auditor sungkan adalah persepsi bahwa temuan audit merupakan aib. Jika sebuah unit mendapatkan temuan, dianggap unit tersebut buruk. Jika seorang pejabat mendapatkan catatan audit, dianggap gagal. Jika sebuah program tidak sesuai standar, dianggap memalukan. Cara berpikir seperti ini harus diubah.Tidak ada sistem yang sempurna. Yang membedakan organisasi matang dan tidak matang adalah respons terhadap masalah. Organisasi matang mengatakan: “Mari kita perbaiki.” Organisasi yang belum dewasa mengatakan: “Bagaimana supaya masalah ini tidak terlihat?” Kalimat kedua jauh lebih berbahaya. Sebab budaya mutu tidak akan tumbuh dari budaya menutupi kelemahan.
Audit Harus Melahirkan Pembelajaran
Audit internal seharusnya menjadi bagian dari continuous improvement. Artinya, audit tidak berhenti pada temuan. Temuan harus dianalisis. Akar masalah harus ditemukan. Tindakan korektif harus dirancang. Perbaikan harus dilaksanakan. Dan efektivitas perbaikan harus diverifikasi. Jika tahun ini ditemukan masalah yang sama dengan tahun lalu, kemudian tahun depan muncul lagi, maka kita perlu bertanya: siapa sebenarnya yang gagal?. Jangan buru-buru menyalahkan unit yang diaudit. Bisa jadi mekanisme tindak lanjut kita yang tidak efektif. Bisa jadi pimpinan tidak serius. Bisa jadi auditor hanya menyelesaikan laporan. Atau bisa jadi budaya mutu kita masih sebatas administratif. Audit yang hanya menghasilkan laporan tanpa perubahan adalah ritual, bukan perbaikan
BE THE FIRST OR THE BEST